Rabu, 30 November 2016

just go

Suara jatuhnya air hujan sukses mengisi keheningan ini. Dalam kedinginan, Ana masih tetap bertahan duduk di samping Ervan di halte yang tak jauh dari sebuah rumah sakit sambil menunggu hujan berhenti.
Sudah hampir setengah jam berlalu, namun diantara mereka tak ada yang mau membuka percakapan lebih dulu. Sungguh, Ana tahu semua telah berubah. Kondisi tak seperti dulu dikala mereka bisa saling canda tawa dengan puasnya. Kini keadaan telah berbeda. Yang paling ia sesali karena telah ada hati yang tersakiti.
Karena sudah habis kesabarannya, Ana berniat ingin berlari menerobos hujan saja.
“Jangan pergi,” suara lirih itu sukses menghentikan gerakan Ana. “Gue mohon.”
Saat Ana menoleh ke arah Ervan, laki-laki itu juga balik menatap dirinya dengan tatapan yang agak kecewa. Setidaknya Ana tahu itu.
“Kenapa? Apa lo akan biarkan gue berdiam diri disini sampai membeku?” tanya Ana jadi ikut terbawa emosi.
Ervan segera membuang mukanya ke arah lain sambil menghela napas. “Maafkan gue.”
Ana menggeleng sambil berkata, “Jangan, jangan minta maaf. Gue yang seharusnya melakukan itu.”
Ana mencoba untuk kembali mendekatinya. Namun Ervan segera berkata, “berhenti! Jangan kembali, sebelum gue berubah pikiran. Pergilah, An.”
Mentari pagi tampaknya enggan membuka diri dengan terus berselimut dibalik awan yang gelap. Ana yang melihat cuaca mendung seperti itu hanya bisa menghela napas kecewa. Sudah dipastikan jam pelajaran olahraganya kali ini akan sangat membosankan.
“Anastasya,” panggil sang ketua kelas yang bernama Vicky. Vicky memang paling suka memanggil Ana dengan nama lengkap gadis itu.
“Ya-ya, gue tahu apa yang ingin lo bicarakan,” jawab Ana dengan cepat. “Sepertinya sebentar lagi hujan akan turun. Guess what? Kita nggak akan olahraga di lapangan, Vic.”
“Tapi belum tentu sebelum Pak Yogi yang mengatakannya,” balas Vicky. “Sudahlah, gue akan memanggilnya dulu. Lebih baik lo segera siapkan buku agenda kelas.”
Ana melepas kepergian Vicky yang melangkah menuju ruang guru dengan menghela napas murung. Tak ingin membuang waktu, ia segera menyiapkan buku agenda kelas. Ya, dirinya memang selaku sekertaris kelas ini.
“Ana, kenapa wajah lo murung begitu?” tanya Sarah, teman dekatnya. Lalu segera berseru, “Oh iya, you know what? Katanya Pak Yogi hari ini nggak masuk loh!”
“Benarkah?” bukan hal seperti itu yang diharapkan oleh Ana. “Padahal gue berharap olahraga kali ini basket.”
Sarah mengangguk. “Tak apalah. Kita kan bisa bermain sendiri.”
“Hm, Sar, apa yang kita lakukan sekarang nggak masalah?” tanya Ana sambil terus mendekap erat bola basket itu.
“Asal nggak ketahuan sih, nggak masalah,” jawab Sarah begitu tenang. “Lagipula, yang anak cowok aja pada ikut main. Ayolah! Kapan lagi kita senang-senang seperti ini?”
Meski awalnya ragu karena gerimis kini mulai turun, namun Ana tetap mengikuti ajakan Sarah untuk bermain basket di lapangan luar sekolah.
Mereka terus mendribble bola tanpa henti. Mencoba memasukkannya ke dalam ring dengan acak. Meski tubuh mereka telah kuyup karena air hujan, namun itu tak menghalangi permainan mereka.
Alan, Tama, Bobby, Zery, dan Mishel juga turut ikut bermain. Hanya Ana dan Sarah selaku anak cewek yang ikut bermain. Alasan Sarah klasik yaitu karena ingin bersenang-senang. Namun bagi Ana, ada satu hal yang membuat moment kali ini menjadi spesial.
“Hm, An,” panggil Sarah ditengah-tengah bermain. “Lo sadar ada Alan juga disini?”
Ana mencoba bersikap biasa saja. “Terus kenapa?”
Yeah, selama ini sudah menjadi rahasia umum kalau seorang Anastasya mengagumi Alan. Namun sepertinya cowok itu malah bersikap biasa saja. Entah karena tak peka, atau memang tak suka.
Karena hujan yang turun makin deras, mereka segera berlari ke tepi sekedar berteduh.
Tubuh mereka benar-benar basah. Ana pun mulai menggigil. Namun dalam hati ia merasa bahagia, bisa berada dalam satu moment bersama Alan. Ana terus memperhatikan gerak-gerik Alan yang berdiri tak jauh darinya. Ingin rasanya ia bertanya apakah cowok itu baik-baik saja. Atau mungkin juga sekedar mengelap wajah basah itu dengan handuk kecil miliknya yang masih terjaga. Namun rasanya semua itu begitu sulit untuk dilakukan.
“Ana, wajahmu mulai pucat tuh.” ucap Tama yang berada di dekatnya. Semua yang mendengar ucapan Tama barusan segera turut menoleh. Bahkan mata Ana bertemu dengan Alan. Namun tampaknya cowok itu hanya cuek menyaksikan dirinya yang memang sedang melawan dinginnya air hujan. Cowok itu malah beranjak entah kemana.
“Nih pake jaket gue.” ujar seseorang beberapa saat kemudian sambil melampirkan jaket ke tubuh Ana.
Refleks tubuh Ana mematung. Bagaimana tidak bila cowok itu ternyata tak lain memang Alan. Dinginnya air hujan ini menjadi terasa hangat di hati Ana.
“Jangan coba berani nekat main hujan-hujanan kayak ini lagi.” ucap Alan pelan nyaris seperti bisikan. Meski terdengar sebagai ancaman, namun Ana tetap mengangguk mengiyakan sambil tersenyum.
Ya, cinta telah membuatnya bertingkah konyol seperti ini.
“Hashhhcih!” Berkali-kali Ana bersin. Mungkin karena hujan-hujanan kemarin yang memberinya efek bersin-bersin seperti ini.
“Ya! Siapa suruh main hujan-hujanan? Lo jadi sakit dan gue yang ribet kan.” Cibir Ervan yang masih sibuk membuatkannya teh hangat.
“Lagipula kan main basket seru. Siapa suruh hujannya yang turun.” Sahut Ana konyol.
“Aww, sakit tau.” Ringis Ana saat Ervan menyentil pelan keningnya jail.
“Gue nggak yakin cuma itu alasan lo sampai rela hujan-hujanan seperti kemarin,” balas Ervan lagi. “Nih diminum dulu tehnya. Habis itu minum obat, lalu segeralah tidur. Semoga besok jadi lebih baik dan bisa sekolah lagi.”
Ana tersenyum simpul. Ia sangat heran kenapa Ervan begitu peduli dengannya. Cowok itu.. seakan begitu tahu akan dirinya. Seolah-olah memang Ervan sangat mengerti akan Ana.
Bahkan kata Sarah, Ervan memang menyukainya. Namun sampai kini, cowok itu belum berkata apa-apa padanya. Yeah, mereka terus menjalani pertemanan ini.
“Lo begitu baik, Van,” ucap Ana dengan tulus.
“Ya! Lo baru tahu itu?” cibir Ervan dengan canda. “Hei, itu jaket siapa? Gue rasa bukan milik lo, An.”
“Hm, oh, ini punya teman.” Jawab Ana sambil menggigit bibir bawahnya.
“Lo menyembunyikan sesuatu, Ana. Gue melihat itu.” Sial. Ana memang tak bisa mengelak lagi. “Itu jaket cowok kan? Siapa?”
“Alan. Ini jaket miliknya. Kemarin dia meminjamkannya untuk gue.”
“Hooh, sepertinya gue mengerti kenapa lo kemarin begitu nekat untuk main basket tanpa peduli akan kesehatan, An.” Ana menghela napasnya. “Ada cowok lain yang membuat lo tertarik ya, An? Cowok itu?”
Pertanyaan seperti itu sukses membuat napas Ana tersekat.
Ana masih berlarian di koridor rumah sakit mencari kamar nomor 114. Hatinya terus berdegup dan takut. Tapi ada sebesit rasa enggan untuk menjenguknya.
Sh*t. Dia harus melawan rasa egonya.
Sampai di depan kamar yang dituju, Ana langsung masuk dan bertemu langsung dengan kedua orangtua Alan. Setelah berbicara sejenak, Ana ditinggalkan berdua dengan Alan di ruangan ini karena kedua orangtua cowok itu yang ingin keluar sebentar.
Ana melangkah mendekat. Alan masih terbaring lemah dengan mata tertutup. Rupanya ia sedang tertidur.
Alan ternyata sudah lama menderita meningitis. Radang otak yang mematikan bila telat ditangani. Tapi untungnya ia sukses melewati masa kritis itu. Yang miris, kenapa Ana tak pernah tahu hal ini?
Ingin rasanya Ana mengelus tangan Alan dengan lembut. Menatap raut wajah Alan yang tidur dengan tenang membuat hati Ana hangat. Ana tersenyum sambil mengigit bibir bawahnya. Jujur aja hatinya seperti tersayat, ia merasa seperti orang asing bagi cowok itu.
“Gue disini, Lan,” ucap Ana seakan bicara dengannya. “Cepatlah sembuh. Gue.. Gue tahu kalau lo pasti kuat.”
Kemudian Ana menaruh buah-buahan yang tadi sempat ia beli di meja.
Saat ia berbalik, rupanya Alan kembali terbangun.
Alan cepat menyadari keberadaan Ana lalu menatap cewek itu lama.
“Lan, kalau lo nggak suka gue disini, gue akan pulang,” ujar Ana dengan segera.
Alan menggeleng lemah. “Jangan..”
Ana menghela napas lega.
“Terima kasih,” ucap Alan lagi. “Karena mau menjenguk gue.”
Belum sempat Ana menjawab, telah hadir seorang cewek yang sangat dikenal olehnya.
“Hai, Alan!” sapanya begitu ramah. Dia bernama Wenny, cewek yang sangat dekat dengan Alan. “Eh, ada Ana juga. Apa kabar?”
Ana mencoba tersenyum ramah. “Baik kok. Hm, Lan, gue ke luar dulu ya. Semoga lo cepat sembuh.”
“Eh, kenapa buru-buru?” balas Alan.
“Ah, itu gue ada keperluan lain.” Dusta Ana lalu segera melangkah ke luar.
Tes.
Air mata yang Ana pertahankan sejak tadi akhirnya jatuh juga. Di luar pintu kamar rawat Alan, Ana menangis. Selain khawatir pada keadaan Alan, juga muncul rasa cemburu dibenaknya melihat kedatangan Wenny.
Ana tertawa hambar sambil merutuki dirinya. “Gue bukan siapa-siapanya. Tapi mengapa gue merasakan hal bodoh seperti ini?”
Karena Ana baru ingat akan mau kembalikan jaket milik Alan, kemudian ia memilih untuk kembali masuk.
Namun saat ia baru membuka pintu, percakapan asik antara dua insan di dalam itu sukses membuat mereka tak menyadari kehadiran Ana.
“Bodoh,” balas Wenny dengan nada ceria. “Kenapa lo tega nggak ngasih kabar hal ini. Kalau kenapa-kenapa gimana? Kan penyakit itu fatal, Alan. Dan bisa-bisanya lo keliatan baik-baik aja selama ini di depan gue—“
Ana menyadari sesuatu..seperti berlebihan. Wenny terlihat sangat khawatir pada cowok itu, sama seperti dirinya.
“Ternyata lo begitu perhatian ya,” balas Alan sambil tertawa kecil. “Dan juga cerewet.”
Wenny tampak bete namun tersenyum juga.
“Udah gak usah ungkit yang lalu, oke?” pinta Alan lagi.
Wenny mengangguk.
“Wen,”
“Ya?”
“Maafin gue waktu itu nggak bisa dateng ke kafe buat acara kita.”
Wenny mengangguk lagi dengan arah pandang masih memperhatikan objek yang lain. “Gue udah tahu alasannya.”
“Maafin gue juga kalau lo jadi berpikir yang aneh tentang gosip gue sama cewek lain. Jujur aja itu nggak bener. Mereka yang-”
“Mereka yang deketin lo kan?” dusta Wenny malah tersenyum simpul. “Ya kan?”
“Alan liat gue,” panggil Wenny lagi.
Lalu Alan menurut. “Apa?”
“Boleh kasih gue kesempatan kedua?”
Deg.
Ucapan itu membuat Ana terkejut sampai tak sengaja membuat suara hentakan pintu yang ditutup. Hal itu sukses membuat Wenny dan Alan segera menoleh ke arahnya.
“Eh, Ana. Kenapa berdiri disitu?” tanya Alan berusaha membetulkan posisi duduknya.
Ana menjadi canggung. “Hm, nggak apa-apa. gue pulang dulu ya. Permisi.”
Ana pun pulang dengan perasaan nyeri juga penuh tanya.
Masih di halte dekat rumah sakit —dimana Alan sedang dirawat— Ana masih terus menatap Ervan yang berdiri agak jauh darinya dengan pandangan bertanya-tanya.
Mengapa?
“Setidaknya kasih gue alasan, Van. Atau lo bisa mengeluarkan semua yang lo pendam selama ini,” ucap Ana memohon lalu berdiri di hadapannya. “Gue telah mengecewakan lo, kan?”
“Dengan gue yang menemukan tadi lo menangis disini, gue udah bisa menyimpulkan, An,” jawab Ervan dengan tegas. “Alan kembali membuat lo sedih kan?”
Kembali mendengar nama Alan, tanpa terasa membuat Ana meneteskan air matanya. Ia segera menunduk malu. Malu pada sosok cowok di hadapannya ini yang telah menjadi teman dekatnya selama ini, namun ia hiraukan perasaan itu.
“Kenapa lo nggak jujur sama Alan—“
“Dan kenapa lo nggak jujur sama gue kalau lo memang menyukai gue, Van?” potong Ana sambil mencegah kedua tangan Ervan yang tadi ingin memegang bahunya.
Ervan balik menggenggam tangan mungil milik gadis satu ini. “Siapa bilang?”
Ana menatap mata Ervan mencari kebenaran. Lalu ia menggeleng pelan. “Mata lo nggak bisa bohong, Ervan.”
Satu Bulan Kemudian.
Ervan masih setia berdiri menunggu di dalam ruang rawat dimana Ana berbaring lemah di sebuah tempat tidur. Ia berjalan mondar-mandir sambil terus berdoa dalam hati agar gadis itu cepat diberi kesembuhan.
Beberapa waktu lalu, Ervan dapat kabar bahwa Ana mengalami kecelakaan mobil saat di perjalanan pulang. Ervan langsung cemas setengah mampus. Ia sangat takut karena tak ingin kehilangan gadis itu.
Sampai saat ini, kondisi Ana masih lemah. Kaki kanannya mengalami cedera dan mengharuskannya memakai kursi roda untuk sementara. Melihat kondisi Ana seperti itu, Ervan menjadi sangat prihatin.
Gdebuk.
Ervan segera menoleh ke sumber suara. Ternyata Ana sudah bangun dan malah jatuh ke lantai karena niat ingin mengambil air minum yang tak kunjung ia gapai.
“Kenapa nggak panggil gue, An kalau lo mau minum?” tanya Ervan khawatir sambil membantu Ana kembali balik ke kasur. “Tubuh lo makin sakit kan jadinya.”
“Gue.. gue cacat ya, Van?” lirih Ana.
“Sttt, lo nggak boleh ngomong gitu. Lo bakal bisa jalan kayak biasa lagi kok,” ujar Ervan berusaha menenangkannya. “Asal lo tetap semangat, An.”
Perlahan, Ana menyunggingkan senyuman. “Makasih karena lo selalu ada buat gue, Van.”
Ervan mengecup kening Ana pelan sehingga membuat tubuh gadis itu mematung, “Karena gue sayang sama lo, An.”
“Gue juga,” Ervan menarik Ana ke dalam pelukannya. “Suatu saat nanti, pelukan lo ini yang selalu gue rindukan, Ervan. Juga semua sifat cerewet lo yang akan gue perlukan. Tolong jangan pernah lupakan gue.”
“Gue selalu ada disini, An. Yang penting lo sembuh dulu,” Ervan melepas pelukan itu lalu menatap mata indah milik Ana. “Ah iya, ada mau jenguk lo nih.”
Flashback on.
BUG.
Ervan menghajar seorang cowok yang kini baru tiba di hadapannya berdiri. Refleks cowok itu sampai jatuh tersungkur menabrak dinginnya lantai.
Ervan menggeleng pelan. “Habis sudah kesabaran gue buat lo, Lan.”
Ya. Cowok itu tak lain ialah Alan. Alan baru datang hari ini buat menjenguk Ana. Tapi entah kenapa, Ervan langsung menghajarnya seperti tadi.
Sambil menyeka sudut bibirnya yang terasa perih, Alan bertanya, “Apa salah gue?”
Terbawa emosi, Ervan mengangkat sedikit kerah baju Alan lalu menyudutkannya ke dinding di dekat mereka. Ervan menatapnya dengan sengit. “Jadi cowok macem lo yang selalu membuat Ana murung? Dan baru hari ini lo tahu kalau dia dirawat?!”
Ervan tidak memberi Alan kesempatan untuk menjawab dan kemudian menghempaskan genggamannya tadi dengan kasar. “Kemana aja lo disaat Ana yang selalu khawatir sama lo? Hah?”
“Gue tahu gue salah,” ucap Alan perlahan sambil mengatur napasnya. “Tapi gue hanya nggak mau buat dia jadi berharap.”
Ucapan itu kembali membangkitkan emosi Ervan. “Berharap maksud lo? Selama ini hanya lo yang jadi pusat perhatian dia, Lan. Hanya lo. Apa lo nggak sadar hal itu?”
“Please, Lan,” lirih Ervan beberapa saat kemudian. “Sh*t, sejujurnya gue males mohon sama cowok macem lo. Tapi demi Ana, gue harap buat dia bahagia.. bersama lo.”
Flashback off.
“Alan?!” pekik Ana tak percaya akan orang yang muncul di balik pintu itu.
Alan tersenyum sambil melangkah mendekat. “Cepat sembuh, An. Sorry—”
“Makasih udah mau datang, Lan,” potong Ana riang sambil mencium bunga mawar putih yang dibawakan Alan. Ana tersenyum manis. “Ini aja udah cukup. Makasih, Lan.”
Ervan yang memperhatikan dengan seksama, berusaha untuk tetap ikhlas. Ia menatap Alan sejenak, lalu mengangguk mengisyaratkan sesuatu bahwa dirinya baik-baik saja. Ia harus turut bahagia melihat kebahagiaan gadis yang selama ini ia sayangi itu, meski bukan harus dengan dirinya.
END

selamat tinggal kenangan

Tak pernah sedikitpun aku menyesal mengenalmu
Kenal setiap orang punya kisahnya masing-masing..
Punya pelajarannya masing-masing.
Dan kisah denganmulah yang terindah,
Sekaligus yang terperih.
Tapi aku bersyukur. Terima kasih.
Waktu berlalu begitu cepat. Entah mengapa hubungan ini semakin membosankan. Adakah yang berubah denganmu? Atau bahkan denganku? Mengapa ini tak seperti hari-hari dimana kita baru saling mengenal dulu? Mengapa kalimat yang terucap kini tak semanis dahulu? Mengapa sikapmu tak seperti dulu? Seiring berjalannya waktu, perlahan mulai sibuk, kemudian menghilang. Jujur, aku rindu kau yang dulu. Kau yang selalu bisa membuatku tesenyum dengan hal-hal sederhana yang kau lakukan, kau yang selalu bisa membuatku merasa menjadi gadis paling bahagia saat bersamamu, dan kau yang selalu ada disaat aku butuh bantuan, disaat aku butuh bahu untuk bersandar, juga disaat aku butuh seseorang untuk mendengarkan segala keluh kesahku.
Dimana kau yang dulu? Ada apa? Adakah yang salah? Bolehkah aku diberi alasan? Agar aku tak terus-menerus terpuruk dalam pemikiranku sendiri. Banyak hal yang terlintas. Sangat banyak. Tapi hati kecilku memaksaku untuk percaya padamu. Tentu saja aku percaya. Jika tidak, mengapa aku bertahan sampai sejauh ini?
Tapi, si egois dalam diriku, otak. Ia selalu memaksaku untuk berhenti berharap pada hubungan yang kini tak tahu entah bagaimana akan berjalan ke depannya. Bukannya aku tak mencintaimu. Tidak, aku benar-benar mencintaimu. Aku mencintaimu lebih dari yang kau tahu, lebih dari yang selama ini sering kuucapkan kepadamu. Tapi harus kau tahu, aku lelah. Bukan bosan, hanya lelah. Jangan salah paham.
Hati dan otakku masih saling berperang menentukan siapa yang harus menang. Hati mengatakan bahwa aku harus mempertahankan yang kucintai, apapun konsekuensinya, meski aku harus terluka. Tapi otak sebaliknya. Ia mengatakan bahwa aku harus bisa memikirkan kebahagiaanku juga. Aku harus bisa menyadarkan diri sendiri bahwa masih ada yang lebih baik darinya, yang lebih bisa memberiku kenyamanan lebih darinya.
Tapi aku terlalu bodoh untuk berpikir saat ini. Aku terlalu mencintainya, sehingga aku memutuskan untuk mengikuti kata hatiku. Aku bersedia menerima segala konsekuensi yang mungkin saja akan kutanggung dengan berat hati nantinya. Aku pernah membaca sebuah kalimat, “Jika dia layak untuk dipertahankan, pertahankan. Jika tidak, jangan membuang-buang waktu.”
Kurasa dia layak untuk kupertahankan. Meskipun sekarang aku mulai ragu. Tapi aku tak ingin ini semua berakhir. Aku ingat masa perkenalan kami begitu lama. Aku ingat ketika ia menyatakan cintanya untuk yang pertama kalinya padaku saat kami baru berkenalan kurang dari dua bulan, aku menolaknya dengan alasan aku hanya ingin berteman dengannya. Aku juga ingat, setelah itu.. seiring dengan berjalannya waktu, rasa itu mulai tumbuh. Rasa yang benar-benar sulit untuk kujelaskan. Rasa yang mulai tumbuh hanya dengan sebuah nyanyian yang dikirimnya untukku.
Ya, aku lupa menceritakannya pada kalian. Dia berada di tempat yang jauh dariku. Berbeda kota, kabupaten, bahkan provinsi denganku, meskipun kami berada di pulau yang sama. Kami belum pernah bertatap muka, sekalipun tak pernah. Kami hanya berjumpa via media sosial. Mungkin ini terdengar sedikit aneh. Aku mengenal cinta pertamaku melalui media sosial.
Boleh kusebut ini cinta pertama? Sebelumnya aku dekat dengan beberapa pria, tapi tak ada yang bisa membuatku tergila-gila sepertinya. Meskipun sebelumnya kuakui aku pernah menyukai beberapa pria, tapi tak pernah kuungkapkan, masih sanggup kupendam, dan aku bisa bersikap biasa saja dengan mereka. Tapi dengannya? Aku bahkan berani untuk mengungkapkan apa yang kurasa, meskipun itu hanya melalui social media. Aku berani mengatakan padanya bahwa aku tak pernah bisa berhenti memikirkannya, aku tak pernah bisa berpaling darinya, dan sebagainya. Gila, bukan?
Dia pria yang selalu kusebutkan tanpa henti dalam setiap doaku. Dia pria pertama yang kulibatkan dalam setiap denyut jantungku, dalam setiap pemikiranku, dan dalam setiap hembusan napasku. Ah, dia benar-benar yang pertama.
Mereka berucap..
“Apa yang kau lihat darinya?”
“Mengapa menyukainya? Dia tak setampan mereka..”
Tahukah kau apa jawabanku?
“Aku tertarik dengan segala yang tak kalian lihat darinya. Aku tidak peduli, selama dia bisa membuatku nyaman.”
Aku benar-benar bahagia saat mengetahui bahwa dia masih memiliki perasaan yang sama kepadaku. Rasanya.. ah, tak bisa kujelaskan. Aku sangat bahagia. Dia mengatakan bahwa dia menyayangiku, dia mencintaiku, dan dia ingin menjagaku. Aku bingung harus bagaimana. Menangis haru? Atau tersenyum tanpa henti saking bahagianya? Peduli apa? Yang jelas aku benar-benar bahagia saat itu.
Dia bertanya, bolehkah ia menjadi kekasihku? Tentu saja aku mau. Wanita mana yang tak bahagia saat cintanya terbalaskan? Tanpa pikir panjang, aku langsung menyetujuinya.
Tapi apa yang terjadi? Dia mencintaiku hanya di awal saja.
Seiring berjalannya waktu, dia mulai sibuk, lalu perlahan menghilang.. bahkan lenyap. Permainan macam apa ini? Dia bahkan tidak pernah lagi menanyakan kabarku.
Seolah-olah dia hanya bermain-main denganku.
Namun, lagi-lagi hatiku memintaku untuk berpikir lebih positif. Mungkin dia memang sedang sibuk. Mungkin dia tidak memberi kabar karena dia butuh istirahat, dan sebagai seorang kekasih yang baik, aku harus mengerti. Dia juga butuh ruang untuk melepas lelah. Aku tidak boleh egois. Aku akan tunggu sampai dia tidak sibuk.
Tapi tetap saja aku gelisah. Sudah beberapa hari ia tidak memberi kabar. Mungkinkah dia sedang malas menghubungiku? Mungkinkah dia sedang tidak mempunyai mood yang baik untuk membalas pesanku? Begitu banyak pertanyaan yang terlintas di benakku.
Kau seperti angin.
Datang membelaiku sesaat dengan sejukmu.
Dan saat aku sudah merasa nyaman dan terbuai..
Kau pergi begitu saja.
Disaat aku belum sempat meraihmu.
Yang kutakutkan akhirnya datang juga. Dia mengirimkan sebuah pesan untukku.
“Bisakah kita bicara?”
Mungkin karena begitu lama ia tidak mengirimkan pesan padaku, aku dengan sumringah membalasnya.
“Iya, boleh. Ada apa?”
“Hmm, bisakah kita sampai di sini saja? Aku sepertinya tidak bisa membagi waktuku. Ini benar-benar sulit. Kupikir kau bisa mendapatkan yang lebih baik dariku.”
Deg!
Apa ini? Jantungku serasa berhenti sejenak. Aku merasa sangat sulit untuk menghirup oksigen dengan baik. Aku kehabisan kata-kata.
“Tapi aku bisa ngerti kamu. Aku bisa ngerti kamu sibuk. Aku nggak minta buat harus selalu diutamakan. Aku akan selalu nunggu sampai kamu nggak sibuk.”
“Kalau aku sibuk terus, gimana? Kupikir kita sampai di sini saja. Kau butuh pria yang bisa lebih peduli padamu.”
Entah mengapa, sesuatu dalam diriku mengatakan padaku untuk tetap bertahan. Sesuatu dalam diriku seolah berbisik padaku bahwa dia akan kembali.
“Ya sudah, terima kasih untuk semuanya. Meskipun kau jarang punya waktu untukku, tapi aku selalu bersyukur bisa diberi kesempatan bersamamu. Aku benar-benar mencintaimu, tapi aku tak ingin egois, jika ini memang pilihanmu. Ingat, aku tak akan pernah mencari penggantimu. Aku akan tetap menunggumu, sampai kapanpun.”
Kurasa aku kehilangan akal sehatku sekarang. Yang ada di pikiranku hanyalah dia. Bagaimana mungkin dia berkata putus begitu saja disaat aku sudah benar-benar merasa nyaman?
Bagaimana mungkin dia mengakhiri segalanya, padahal beberapa jam yang lalu dia memanggilku ‘sayang’? Ah, ini benar-benar gila.
Kuharap ini hanya mimpi. Mimpi yang akan berakhir disaat aku bangun nanti. Mimpi buruk yang akan kulupakan beberapa saat setelah aku bangun tidur nanti.
“Okay. Terima kasih kembali. Maaf sudah membuatmu sakit hati. Maaf sudah membuatmu merasa telah memberikan cinta pada orang yang salah. Aku benar-benar minta maaf. Jika jodoh, kita pasti akan dipertemukan kembali.”
Balasan darinya kini benar-benar membuatku sadar. Sadar bahwa ini benar-benar nyata. Semuanya sudah berakhir.
Aku menghempaskan ponselku ke tempat tidur, lalu menutup wajahku dengan kedua tangan. Aku merasakan telapak tanganku basah. Mengapa aku sebodoh ini? Mengapa aku mencintainya terlalu dalam? Dan mengapa akhirnya seperti ini?
Bertahan tanpanya? Tentu saja aku bisa.
Kalaupun tidak, aku harus bisa.
Setelah hari-hari sulit berlalu, aku harus berbuat apa? Bertanya pada diriku sendiri, apakah aku sudah sanggup melangkah tanpanya? Tentu saja aku akan mengiyakan dengan sangat yakin di bibirku, meski dalam hati aku benar-benar berteriak bahwa aku masih mengarapkannya kembali. Tapi apakah itu akan mengubah segalanya? Tentu tidak, bukan? Kupikir merengek untuk kembali adalah sebuah kesalahan. Mungkin memang bukan benar-benar kesalahan, sejujurnya dalam hati aku menganggap itu adalah suatu hal memalukan.
Tapi ternyata masih sama saja rindunya. Puluhan, bahkan ratusan kali aku membantah, dan meyakinkan diriku bahwa rasa itu tak lagi ada. Namun, rindu tetap saja rindu. Terselip di setiap mimpi, mengacaukan pikiran, dan selalu saja membangkitkan hal-hal yang selalu kucoba untuk hempaskan dari ingatan.
Tidak pernahkah terlintas di benakmu tentang hari-hari yang telah lalu? Tentang rahasia-rahasia yang kita ciptakan sendiri?
Tapi setidaknya.. semuanya telah berlalu. Kupikir aku sudah benar-benar sanggup sekarang. Semua yang menyesakkan berangsur-angsur membaik. Semua yang telah kau rusak, perlahan tapi pasti kupulihkan sendiri. Aku sudah bisa menghapus secuil dari puluhan ribu kenangan, meski itu dengan susah payah. Tunggu saja, akan ada saatnya, semua kenangan itu akan benar-benar menghilang.
Semoga semesta tidak bermain-main lagi mempertemukan kita, tak terduga suatu hari nanti. Sebab tanpamu, nyatanya aku bisa hidup dalam dunia yang kucintai sendiri.
Selamat tinggal, kenangan..

malam pun menangis

Aku menyayanginya, entah? apa yang ada di pikiranku sehingga aku terlalu tergila-gila dengannya, atau aku yang terlalu bodoh untuk mencintainya? Kurasa tidak. Karena aku, sangat menyayanginya. Tak pernah kulepas untuk menulis namanya di buku harianku, tak pernah kubosankan untuk menggambarkan senyum indahnya, walaupun itu hanya sesaat dan akan pergi meninggalkanku, meninggalkan luka yang terlalu dalam, biarkan malam ini menangis jika ia tau esok kau tak lagi bersamaku.
Pagi ini aku penuh semangat untuk berangkat ke sekolah, mengapa? Entahlah, hari ini aku sangat bahagia,
“Franz” berkali kali kusebut namanya pelan-pelan.
“Franz? siapa itu cie?” Goda sahabatku yang juga sebangku denganku.
“Hmm.. Kepo ya nanti aja deh aku ceritain franz itu siapa.” Jawabku sambil beranjak dari bangku tempat dimana aku duduk.
“Yaelah, Nara gitu amat”.
Kemana dia? Menghilang? Aku merindukannya.
“Franz aku kangen kamu?” Kuketik huruf itu, namun rasanya berat untuk ketik send
“Franz kamu kemana sihh? aku kangen ini” sekali lagi kuketik, namun sangat berat untuk ketik send, mengapa? Entahlah aku sangat khawatir dengannya yang tanpa kabar. Atau aku yang over protective thinking?.
Malam ini, ya, sabtu malam minggu. Dimana aku akan bertemu dengannya, tapi entahlah sejujurnya aku tak pernah percaya diri untuk bertemu karena aku memang tak terlalu menarik dibanding dengan cewek-cewek lain.
“Eh Nara yaa?” Sapanya franz, bahagia? Tentu, bertemu dengannya memang keinginanku,
“Eh iya franz kan?” Sapaku sambil senyum
“Kita mau kemana?” Tanyanya kepadaku, aku tak pernah mendengar suaranya meskipun kita sering chatting karena yang aku tau hanya perhatiaanya lewat sosial media, merdu, menyejukkan, kurasa aku sangat nyaman.
“Ke rumah temanku aja yuk”, ya malam ini aku bermain bersamanya, tapi entahlah aku rasa tak enak, atau perasaanku saja, lumayan lama tapi tiba-tiba dia pulang tanpa pamit. Dan disaat itulah dia mulai berubah, mulai pudar perhatiannya, mulai hilang tanpa kabar dan aku merasakan semuanya, ia mulai tak hadir dalam kehidupanku lagi, aku yang terlalu menyayanginya sehingga aku yang menerima sakit selama ini yang tak pernah kurasakan. Bahkan Malam pun Menangis, Jika ia tau jika esok kau tak lagi bersamaku.

hancur

Kenapa mereka menyebutnya ‘patah hati’? Aku tidak mengerti. Karena yang aku rasakan sama sekali bukan patah, tapi hancur. Rasanya seperti ingin meledak berkeping-keping, atau terbakar hingga menjadi abu yang kemudian hilang diterbangkan angin.
Mereka menyuruhku untuk menceritakannya dengan seseorang, berbagi beban akan meringankan kesusahanku. Tapi tidak ada yang bisa menyembuhkan sama sekali. Mereka hanya mendengarkan. Aku juga mendengarkan cerita yang keluar dari mulutku sendiri dan rasanya sangat memuakkan ketika aku merasakan sekaligus mendengarkan bagaimana aku menggambarkan perasaan itu sendiri.
Aku bisa menenggak berbotol-botol minuman keras atau menelan beberapa obat penenang namun semua hanya bersifat sementara. Aku lupa hanya pada saat itu saja. Ketika aku mulai sadar dan kenangan itu kembali menghantui, rasanya jauh lebih menyakitkan. Aku berharap berlari sejauh mungkin bisa meninggalkan kenangan pahit di tempatnya terjadi. Tapi aku sadar kepahitan itu sudah tertancap teramat dalam di hatiku.
Aku sudah coba mendatangi psikiater. Aku bahkan memohon padanya untuk menghapus ingatanku saja. Aku tidak keberatan untuk tidak mengingat siapa-siapa asalkan nama dia bisa terhapus dari memoriku. Permintaanku mengada-ada, katanya. Dokter itu tidak merasakan yang aku rasakan jadi ia tidak akan mengerti. Aku lelah mendebat orang yang tidak akan pernah mengerti.
Aku sudah berdoa pada Tuhanku. Kata mereka hanya cara itu yang bisa membantuku sekarang. Aku kehilangan kekhusukanku saat beribadah. Karena kenangan itu berdatangan bagaikan tembakan paku pada ulu hatiku saat aku berusaha menyampaikan keluhku pada Tuhan. Aku justru semakin sakit ketika menyadari aku begitu lemah dan kehabisan akal. Tidak ada satu hal pun yang aku lakukan terasa benar.
Seorang kenalanku mengantarku ke toko yang menjual barang-barang selundupan malam kemarin. Aku rasa aku sudah mendapatkan apa yang aku butuhkan. Dengan menulis ini, aku hanya ingin mereka tahu aku sudah pernah berusaha dengan cara lain. Aku tidak ingin mereka menganggapku sebagai manusia yang mudah menyerah.
Aku masih mencintainya. Aku mencintainya hingga aku mati.
Catatan ini akan kuletakkan di sebelah bantalku nanti. Juga bersama cincin yang aku belikan untuknya dulu. Aku tidak akan pernah bisa berbahagia untuk kebahagiannya. Aku tidak akan naïf. Apa yang aku lakukan semata-mata untuk diriku sendiri. Aku hanya menyelesaikan masalahku. Entah di neraka atau surga tempat kami bertemu nanti, akan kupastikan rasa sakit ini sudah hilang.
“Kenapa dia begitu bodoh?”
“Mengakhiri hidup hanya karena patah hati?”
“Wanita itu membatalkan pertunangan dengannya. Setelah semua yang dia lakukan.”
“Aku dengar wanita itu lari dengan laki-laki lain.”
“Padahal mereka sudah bersama selama tiga tahun. Bulan depan harusnya mereka menikah.”
“Dia meninggalkan pesan, katanya dia masih mencintai wanita itu, mencintainya hingga mati.”
“Dia bunuh diri di kamar, membenamkan kepalanya di bantal dengan catatan dan cincin pertunangan mereka di sebelahnya.”
“Dia juga membuat catatan di bukunya.”
“Aku pernah bertemu dengannya di rumah sakit. Dia bertemu psikiater. Kasihan sekali.”
“Aku juga pernah bertemu dengannya di apotik, membeli berbagai macam obat penenang.”
“Hampir tiap malam dia mabuk di bar. Menangis dan mengamuk seperti orang gila. Menyedihkan.”
“Dia membeli senjata itu di pasar gelap. Mungkin hanya ini cara mengakhiri penderitaannya.”
“Mungkin.”
“Mungkin.”
“Mungkin.”

coretan tinta

Rangkaian kata indah penuh makna berjejer penuhi selembar kertas putih. Bukan sebagai noda melainkan cerita indah. Gundah gulana dan suka ria bertumpah ruah di dalamnya. Dengan telaten, tangan menulis satu per satu abjad hingga menghasilkan karya yang luar biasa untuknya. Teruntuknya yang kini tengah menjalin asamara bersama gadis usia sebaya. Tak cukup berat menerima kenyataan seperti itu. Sudah biasa bagiku justru dari kisah merekalah banyak memberiku inspirasi di setiap waktu. Sejuta harapan terbayang jauh di masa depan. Meski tiada kenyataan yang sesuai keinginan.
Sedari masa sekolah ku sudah kagum padanya. Kekaguman yang amat sangat luar biasa hingga tak lagi terlihat kekurangan dalam dirinya. Sungguh sempurna bak merpati putih yang terbang dengan kepakan sayap seirama. Tiada puas ku melihat setiap kali berjumpa. Bibir tak sanggup menyapa juga tangan tak mampu melambai. Seketika itu hati bergetar hebat membuatku terpaku. Lirikan mata yang sungguh tajam ditambah aura berkarisma menjadi daya tarik tersendiri. Pantas saja banyak yang mengharap akan dirinya. Sebagai gadis biasa, hanya bisa kupendam dalam-dalam pengharapanku untuknya. Keberanian akan pengucapan bukan bagian dalam diri. Namun tekad semakin kuat setiap saat. Selalu ada semangat untuk raih semua keinginan hati.
Perasaan iri jelas adanya. Sampai pernah hingga ku merasa sesak dalam dada. Tiada hak atas semua perasaan yang kurasa. Sering kali seolah hati bertengkar hebat juga sesaat diam tak berucap. Satu keyakinan memaksaku untuk bertahan meski terkadang merasa tak sanggup harus menerima begitu banyak tempaan. Pertahanan hati tak semudah mempertahankan diri. Dikala terdapat luka goresan akan terlihat dan mudah untuk diobati. Namun ketika hati yang terluka, siapa yang mau untuk bertindak dan siapa pula yang peduli? Karena semua itu tak terlihat jauh di dasar nurani. Hanya diri sendiri yang mampu mengatasi. Sebesar apapun luka hati, tiada insan yang mampu untuk mengerti.
Sebenarnya semua ini hanyalah perjuangan sederhana tapi tidak sembarang orang bisa melakukannya. Kosekuensi akan akan hati menjadikan nilai lebih bagi siapapun yang berhasil mencapai tujuan. Tak hanya itu, kepuasan juga kebanggan bagai medali perlombaan. Bukan berebut kekuasaan, bukan pula perusak hubungan orang namun semua ini masalah kekuatan. Kuat akan segala macam cibiran, olokan bahkan makian menyakitkan. Pandangan sebelah mata pun menjadi salah satu yang harus dihadapi dari sekian banyak bahan ujian. Disaat seperti itu, hati seolah membeku tiada peduli dengan pendapat orang.
Meski hati terus menangis tiada henti, kesempurnaan akan bayangnya berhasil menutupi. Betapa besar harapku padanya. Hingga selalu terinspirasi di setiap hari. Perasaan dalam diri yang tak pernah ia ketahui saat ini atau mungkin nanti. Dan entah sampai kapan pengharapanku selalu tertuju padanya. Padahal ku paham betul sama sekali ia tak menganggapku bahkan tak menggenalku. Jalinan pertemanan pun kupikir tiada antara aku dan dirinya. Terkadang ku terbayang akan perasaan. “Apa yang sedang ia rasakan ketika ku merindukan? Terganggukah, kagumkah atau malah tiada pernah ia rasa?” Pertanyaan konyol penuhi benakku yang pada akhirnya hati harus menanggung rasa akan angan semata.
Malam ini terasa begitu sunyi. Kupejamkan mata dan berharap ia datang dalam mimpi. Meski tak ada dalam nyata setidaknya mampu untukku bersamanya hari ini. Sekali saja sudah cukup bagiku. Beribu kegembiraan akan datang padaku ketika itu. Lagi-lagi khayalanku melambung tinggi akan sosoknya yang selalu terekam dalam memori. Seketika kerinduan penuhi ruang hati. “Bagaimana ia melewati hari-hari? Bersama siapakan ia menceritakan isi hati?” Mustahil bila ia sama sepertiku yang hanya bisa terdiam di relung terdalam. Waktu yang tepat untukku meluapkan rasa rindu di atas kertas putih bergariskan warrna merah hati. Sungguh warna yang melambangakan ketulusan. Senyuman seringkali terlontar dari bibirku tanpa kusadari. Sembari kugoreskan tinta hitam, kembali bayangku melambug jauh ke awan. Cukup tinggi memang, hingga akhirnya tercipta satu cerita mendalam dengan penuh kejujuran.
Tak terasa, penantianku terhitung lama bagi mereka. Namun masih kulakukan sampai saat ini. Meski berkali-kali harus kutanggung perasaan sedih. Ketika kudapati informasi ia menjalin hubungan, sempat melajang dan kembali merajut kasih hingga tiada lagi rayuan ungkapan isi hati. Semakin ku terpacu untuk memantaskan diri. Satu per satu anak tangga kunaiki dengan penuh usaha bersusah payah. Terlihat jelas sosok bayangnya di puncak menanti siapapun yang berhak atas segalanya. Harus bisa kuraih anganku tentang dirinya. Banyak orang bilang kalau saja tiada usaha yang sia-sia. Pikirku inilah saatnya untukku berusaha. Tak lagi menunggu ia menghampiriku. Akan butuh waktu lama untuk itu. Bahkan mustahil akan terjadi. Tak ada seorangpun membantuku karena kuingin mencapai puncak dengan cara terbaikku. Dengan begitu, mungkin saja ia akan sedikit menoleh padaku.
Ketika ku berhasil mencapai puncak, bayangnya seolah sirna tertutup kabut kelabu. Dalam sekejap, beribu pertanyaan ada di benakku. Kegelisahan hati tak lagi bisa kupungkiri. Sorot mataku tak hentinya memandang sekeliling duniaku. Hingga terhenti pada sosok perawakan yang sangat kukenali betul. Mengapa ia berpindah tempat tanpa ada seorangpun yang mengetahui? Mungkinkah ini satu bentuk pelarian atau apapun itu aku tak tahu. Satu hal yang pasti adalah kembali ku belum berhasil mendapatkannya. Memang bukan perkara wajar jika ku terus mengejarnya. Tak selayaknya ku berbuat demikian. Namun apa daya, perasaan kagum yang amat berlebih itulah yang selalu menuntunku untuk tetap mempercayakan harapku padanya.
Gambaran wanita cantik dengan polesan bedak tipis dan bibir merona sontak membuatku berdecak kagum. Kesempurnaan seorang wanita jelas tergambar. Dan aku pun yakin begitulah wanita idaman para pria. Pantulan diri pada cermin membuatku berfikir berulangkali sebelum ku kembali melangkah. Tiada satupun hal yang menarik dalam diriku. Pantas saja tak pernah sekalipun ia melirikku. Pendapat macam apa ini yang mencela diriku sendiri. Memanglah paras bukan menjadi hal utama untuk menjamin masa depan cerah. Bagi pria, justru kecantikan menjadi syarat yang memiliki poin tertinggi dari sekian banyak kriteria. Melihat 2 kesempurnaan berbaur menjadi satu membuatku berani berfikir jauh. Ditambah dengan rencana melenggang di pelaminan seolah membuatku hampir putus asa. Namun satu keyakinan timbul dalam diriku. Tidaklah semudah dan secepat itu ia akan menikah. Butuh cukup banyak proses untuk menuju pernikahan.
Entah setelah kuketahui banyak hal tentangnya membuatku sakit hati. Mungkin perasaan ini timbul karena ku merasa iri. Meski terbiasa dengan semua ini tetap saja hati tak bisa kubohongi. Inginku menangis namun air mata tak mau menetes. Ingin ku mengeluh, tiada seorang pun yang mengerti keadaanku. Cukup banyak saran dan petuah dari mereka. Memanglah kalau tidak diri merasa, sungguh mudah berkata. Tanpa mereka tak akan tahu begitu berat melakukannya. Setelah sekian lama berusaha untuk memperbiki diri hingga tingkatan setara. Dalam diamku akan tetap menunggu hingga kutahu akhir dari semua penantianku juga jawaban dari segala harapku.
Dari sekian lama penantian, aku mulai sadar kesetiaan tak bisa dijadikan jaminan untuk masa depan. Turuti kata hati, ingin ku lebih lama menanti dan terus menanti. Namun kesempatan itu kurasa sudah tiada lagi. Lembaran kertas tertumpuk rapi di antara sekian banyak buku di lemari. Tak sempat terfikir olehku, segera dikirimkan ke alamat yang terdapat pada buku kenangan masa sekolah. Harap-harap cemas akan hal itu. Sama sekali tak pernah kusangka akan perilakunya. Coretan tinta yang kutulis dengan sunguh-sunguh dan sesuatu yang kuanggap berharga juga indah seolah tiada harganya. Satu karya tentang kekagumanku padanya kini harus berpindah tempat yang sama sekali tidak terduga.
Hanya selembar saja ia membaca dengan kerutan di kening. Entah apa yang ada di benaknya ketika membaca harta terindahku yang memang kupersembahkan untuknya. Harapanku ia tersadar akan kehadiranku dalam penantian. Tak lagi inginku ia menghampiri, hanya saja anggaplah aku ada. Namun penantianku hanya dianggapnya sebagai sampah yang tak lagi berguna. Tumpukan kertas yang telah dibacanya segera ia lempar masuk ke dalam kotak sampah yang ada di ruang pribadinya. Cukup! Kurasa cukup disini penantianku untuknya. Tak lagi ingin ku mengingat masa lalu. Tidak! Aku tak akan menyalahkannya dalam hal ini. Kesalahan terbesar dalam hidupku adalah mempercayakan harapan berlebih padanya. Akhir dari sebuah penantian panjang merupakan kesalahan. Lega sekali, kini ku dapat menangis. Air mata yang dulunya enggan untuk menetes, kini bercucuran membasahi wajahku. Jauh di atas sini bersama malaikat bersayap dengan jelas ku melihat semua yang telah ia perbuat terhadap apa-apa tentangku.